Sunday, July 29, 2012

Wondering...

Katanya, orang Cina percaya kalau jodoh kita itu udah ada benang merahnya di jari kelingking kita. Well, saya bukan orang Cina sih tapi kalau denger kata-kata itu saya suka ketawa-ketawa sendiri wondering siapa yg ada diujung benang merah saya itu. 

Dari zaman kita kecil, kita udah mengkonsumsi kisah cinta-cintaan. Sebut aja dongeng-dongeng macam Cinderella atau Snow White, semuanya kisah yang membuat kita wondering siapa ya pangeran tampan di luar sana yang akan mencium kita dengan manisnya itu? Dan sampai kita tumbuh besar, dongeng-dongeng itu tetap meninggalkan kesan manis di setiap otak dan pikiran kita. Walaupun kita udah mulai mikir kalau dongeng-dongeng itu naif banget, dan sebagai gantinya kita mengkonsumsi drama-drama percintaan ala Hollywood yang lebih dewasa dan lebih masuk di akal. Yup, drama-drama itu mengatur ulang tentang cinta di otak kita. Percaya nggak percaya, kita menghadapi kisah cinta kita terkadang base-nya dari drama-drama percintaan itu.

Pernah nggak berpikir kalau ternyata cowok yang nggak sengaja ketemu di lift itu ternyata orang yang akan jadi suami kita kelak?

Kalau saya sih menatap wallpaper iPhone terus wondering 'jangan-jangan kita jodoh, Tsuyo~' hahaha seringnya, saat berada di pusat keramaian saya wondering, kira-kira calon suami saya ada disini nggak ya? Ujung-ujungnya sih saya mulai memicingkan mata mencari pria tampan dan berharap dia jodoh saya :p

Misteri illahi itu luar biasa ya!? selalu bisa membuat kita berharap dan berdoa serta berusaha untuk mengetahuinya. Kadang kalau inget cerita tentang mantan pacar saya, saya suka lucu sendiri. Kenalnya udah lama tapi jadiannya baru beberapa tahun kemudian atau kalau tiba-tiba dekat dengan seseorang yang udah lama dikenal, rasanya agak aneh dan pertanyaannya selalu sama 'kok baru sekarang?', tapi ya bgitulah misteri illahi. Kita nggak pernah tahu kapan, mengapa, apa, dimana, bagaimana semua itu bisa terjadi.

Beberapa minggu lalu saya baru dapet kabar dari sahabat saya kalau dia akan menikah sama pacarnya yang baru mau setahun dipacarin. WOW! itu waktu itu yang ada di kepala saya. Selanjutnya saya langsung 'Gawat! harus segera cari pacar! sebelum kesepian' XD. Waktu saya tanya seberapa yakin dia akan menikah dengan pacarnya, dia jawab 'yakin' dengan nada datar dan lagi-lagi saya WOW!

Funny how love is..  katanya keyakinan itu bisa dateng kapan aja saat kita sudah menemukan "seseorang". 

Kalau untuk saat ini saya belum memikirkan soal pernikahan. Buat saya itu masih nanti dulu, saya masih mau berkarier dulu tapi sepertinya sekarang harus mulai mencari pacar supaya nanti tahun depan sahabat saya nikah, saya nggak dateng sendiri *lho.

Saat saya ngetik ini pagi-pagi setelah sahur, jodoh saya sedang apa ya? lagi tidurkah? lagi siap-siap mau olahragakah? lagi dimanakah? tampankah? baikkah? apa dia juga sedang berpikir seperti yang saya pikirkan?

Si mama semalem bilang sama saya, 
Jangan takut untuk jatuh cinta dan jangan takut untuk sakit hati, kalau sakit hati nanti juga akan sembuh.
Sampai saya peluk lho si mama pas dia bilang itu. Saya nggak butuh kata-kata 'semangat', 'berjuang', atau 'lupakan'. Kata-kata si mama itulah yang saya butuhkan. Kata-kata yang mendukung tapi  pada akhirnya mengembalikannya kepada kita sendiri. Semua pilihan yang ada di depan mata, bisa kita pilih dengan sesuka hati tapi kita harus sadar kalau pilihan-pilihan tersebut mempunyai konsekuensinya masing-masing. Setiap konsekuensi itu akan jadi pelajaran untuk kita lebih dewasa dalam menghadapi setiap permasalahan dalam hidup ini.

Sama halnya dengan jodoh. Jangan takut dan jangan ragu untuk membuka hati kepada orang yang kita sukai. Semakin takut kita untuk jatuh cinta, semakin kita menjauh dari jodoh tersebut. Karena jodoh bisa dateng kapan aja dan dimana aja. Tuhan cuma memberikan pilihan-pilihannya dan kitalah yang pada akhirnya memilih si jodoh itu. Jangan juga untuk takut sakit hati karena sakit hati yang kita dapet akan jadi pendewasaan diri kita untuk nggak mengulang kesalahan yang telah kita lakuin dan akan memberikan kita jalan menuju jodoh terbaik.

so.. mari kita telusuri siapa yang berada di ujung benang merah tersebut :)




Monday, April 23, 2012

Kertas Itu


“Ju, hamili aku” kata Rui sambil memeluk Juichi dari belakang ketika ia melihat sosok pria yang disayanginya itu sedang duduk sambil menghisap rokoknya. “Hee!?” kata Junji dan Daigo bersamaan melihat terheran-heran pada gitaris cantik mereka. Masih dengan memeluk Juichi, Rui berkata “Supaya aku tidak merasakan sakit di perut ini lagi”, takdirnya sebagai perempuan ini selalu melemahkannya. Juichi menghembuskan asap rokoknya, “Boleh saja asal kamu menuliskan namamu disini” ujarnya sambil mengambil kertas dari tas bass-nya. “Lho!? itu khan...” kata Junji sambil mengintip tulisan yang ada di kertas itu. “Marriage Registration form!?” baca Daigo dengan sedikit takjub.
Juichi tersenyum, “Aku tidak bisa menghamilimu sebelum kita menikah,” ujarnya sambil meletakkan kertas dan pulpen di meja. Rui melepaskan pelukannya perlahan dan memegang perutnya kembali sambil melepaskan gitarnya yang tersangkut di bahu dan ia pun duduk di sebelah Juichi. “Benar juga,” ujarnya sambil mulai menulis nama lengkapnya di kolom yang tersedia. Junji dan Daigo melongo melihat kejadian yang sedang mereka saksikan. Juichi tersenyum gemas melihat aksi polos dari kekasihnya itu. Dengan diakhiri tanda tangannya, Rui menyerahkan kertas itu pada Juichi “Selesai~” katanya dengan nada riang.
“Eeehh~ Rui!” kata Junji terheran-heran melihat sahabatnya itu seakan tidak sadar telah menandatangani sesuatu yang akan memulai masa depannya. Rui diam, sakit perutnya membuat ia tidak bisa berpikir panjang. “Yosh, aku akan ke kantor pemerintah dan menyerahkan ini, setelah itu baru aku bisa menghamilimu,” kata Juichi mematikan rokoknya dan mengambil kertas itu. Junji dan Daigo masih memasang wajah terheran-heran, ingin rasanya mereka menyadarkan Rui bahwa ia baru saja menandatangani sesuatu yang sangat penting, namun ketika mereka melirik ke Juichi, Juichi memasang wajah ‘biar dia sadar sendiri’. Junji dan Daigo pun mengurungkan niat baik mereka. Mereka bertiga menunggu reaksi Rui. Rui bukan tipe perempuan yang lambat berpikir, Rui hanya tipe yang kadang kurang peka terhadap hal penting. Mengenal Rui bertahun-tahun membuat mereka sangat mengerti sifat Rui.
Rui mulai memiringkan kepalanya menatap kertas yang dipegang Juichi. “Eeehhh!? kamu akan menikahiku????” teriak Rui sambil berdiri. Matanya membelalak dan menatap Juichi. Junji dan Daigo menahan tawa. Juichi tertawa renyah. Rui merebut kertas itu dari tangan Juichi. “Marriage Registration Form!?” bacanya lantang. “Is this for real, Ju?” ujarnya masih dengan suara lantang, seketika ia merasa sakit perutnya hilang. “Aku sudah bilang khan tadi!?” ujar Juichi tersenyum menahan gemas pada kekasihnya yang telah ia pacari selama 2 tahun itu.
Juichi berdiri dan memegang tangan kanan Rui, “Will you marry me, Ru?” tanyanya sambil menatap Rui. Rui menatap takjub pada Juichi dengan masih memegang kertas itu di tangan kirinya. Junji dan Daigo menahan nafas melihat peristiwa bersejarah yang selama ini mereka nantikan dari kedua pasangan yang menurut mereka ideal itu.
Rui masih terdiam memandang Juichi. Tiba-tiba ia merasa masuk ke dalam mesin waktu dan melihat awal pertemuannya dengan Juichi, melihat bagaimana Juichi menyelamatkan hidupnya yang berantakan setelah ditinggal tunangannya, melihat bagaimana ia jatuh cinta pada Juichi, melihat bagaimana Juichi membuatnya selalu tertawa, bagaimana ia terheran-heran setelah sekian lama mengenal Juichi, mengapa Tuhan baru menunjukkan Juichi-lah yang selama ini ia cari, Juichi-lah yang selama ini ia nanti. Rui pun mulai berkaca-kaca.
Juichi menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, ia pun mulai angkat bicara untuk memecah keheningan, “Ru, maaf.. aku belum sempat membeli cincin..” ujarnya pelan, “Semalam aku memimpikanmu, dalam mimpiku, kamu menangis tersedu-sedu dan  aku terus bertanya kamu kenapa tapi kamu hanya terus menangis, aku hanya bisa memelukmu dan meredam tangismu” Juichi menghela nafasnya panjang. Rui mendengarkan dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Saat aku terbangun, aku langsung berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah membuatmu menangis seperti itu sepanjang hidupku, aku akan membuat tawa adalah hal yang abadi di wajahmu” kata Juichi tegas. Air mata Rui menetes. “Aku pun langsung pergi ke kantor pemerintah untuk mengambil marriage registration form tapi sepanjang perjalanan kesini aku sadar aku harus membeli cincin tapi aku tidak akan sempat, aku pikir kita mendaftarkan diri dulu lalu nanti aku akan membuatkan pesta pernikahan yang kamu impikan, pesta pernikahan dengan cahaya kuning dan bunga mawar yang bertebaran dimana-mana” ujarnya sambil tersenyum dan menghapus air mata di pipi Rui. 
“Ruisa, will you marry me?” tanyanya lagi masih menggenggam erat tangan kanan yang bergetar itu. Rui tertawa ringan dengan air mata yang masih menetes, “Yes i will,” jawabnya sambil menatap Juichi. Juichi tersenyum dan menarik Rui kemudian mengangkatnya hingga kepala Rui tepat berada di bahunya, “Thank you,” ucapnya, “I love you” balas Rui, “And i love you more..” ujarnya dan memeluk Rui lebih erat dan Rui hanya bisa menangis sambil meremas kertas itu ditangannya.
Tepuk tangan pun berhamburan dari Junji dan Daigo. Junji sedikit menghapus air matanya, terharu akan keberanian Juichi melamar sahabatnya itu. Daigo berkata “Selamat~ akhirnya...akhirnya.. teman-teman!”. Juichi dan Rui sadar dari dunia mereka berdua. Keduanya pun bergantian memeluk Junji dan Daigo menerima ucapan selamat dari anggota band mereka.
Hari ini bukan hari recording melainkan hari ini adalah hari aku dilamar, batin Rui sambil tersenyum dan menatap kertas lusuh ditangannya. “AAA!!!!!” teriak Rui. Semua menengok padanya. “Aku melusuhkan marriage registration form-nya!” kata Rui lantang dan panik. “Waduh!?” kata Junji dan Daigo bersamaan. “Berarti kita tidak jadi menikah,” kata Juichi datar. “Aduh, tiba-tiba perutku sakit lagi,” kata Rui sambil memegangi perutnya dengan kertas lusuh itu. Kali ini Juichi tidak menahan gemasnya, ia pun langsung memeluk calon istrinya itu.

END
Owari~ agak ekstrim ya awalnya!? entahlah, tiba-tiba di kepala saya terbayang cerita itu dan tau-tau saya jadi ingin menuliskannya di blog. Padahal udah lama banget nggak nulis fiksi-fiksi kayak gini di blog, kadang suka males bikin endingnya. Jujur saya nggak jago bikin ending hehe. 
Cerita ini sebenernya basenya dari Jepang, yah dari nama udah keliatan lah ya hehe nah buat yang nggak tau marriage registration form, sebenernya sih namanya bukan itu, saya nyebut gitu biar gampang aja :p singkatnya kalau mau nikah di Jepang itu, ceremony bukan hal yang penting. As long as kita udah ngisi formulir itu kita udah sah nikah, kalo disini kayak yang penting udah  ijab qobul,  kurang lebih kayak gitu lah. Saya agak lucu aja nanggepin tentang form ini, ya masa’ udah ganti nama belakang, udah tinggal bareng tapi nggak pake pesta nikahan!? kayaknya nggak afdol! hahaha 

Saya mau bilang terima kasih sama Junji-san, Daigo-san dan Ju-ken-san yang udah saya pinjem namanya. Khususnya Ju-ken-san, entah kenapa meskipun dengan tato di seluruh lengan itu, saya kebayang kalau kamu orang yang romantis :p 


Dan siapakah Rui? kasih tau ga yaaa!? :D
Cheers!

Saturday, January 21, 2012

Kapal Goyang, Kapten

Saya adalah teman yang biasanya jadi tempat curhat teman-teman saya yang galau. Saya selalu menjadi pemberi motivasi dan pemberi pikiran-pikiran positif kepada teman-teman saya. Galau itu kalau dalam kamus saya adanya di halaman paling belakang dan tulisannya kecil *baca: sama sekali nggak digubris. Saya selalu berusaha melihat sebuah masalah dari sisi positifnya. Itulah kenapa saya jadi tempat curhat teman-teman saya.

Sampai suatu hari saya mengalami yang namanya GALAU. Setelah 23 tahun hidup dan udah lama kenal cinta-cintaan, saya baru ngerasain yang namanya galau. Iya galau! yang kayak ABG-ABG rasain, yang kayak lagu-lagu cintanya Indonesia, yang kayak orang ga jelas cuma bengong bingung mau ngapain dan itu rasanya NGGAK ENAK! Tiba-tiba saya nggak bisa mikir positif, tiba-tiba otak saya buntu, tiba-tiba saya jadi pake perasaan kayak cewek-cewek pada umumnya. Penyebab galau saya yah hal yang biasa digalauin cewek a.k.a cowok.

Hari-hari yang saya jalani nggak jelas arahnya. Saya nggak bisa mikir jernih. Bahkan saya curhat ke teman-teman dekat saya dan mereka merasa saya berubah seperti bukan saya. Mereka yang biasanya curhat sama saya tiba-tiba berubah jadi tempat curhat saya. Saya pun sampai bingung, Oh God ada apa ini?

Galau ini berlangsung sekitar 5 bulan. 5 bulan, sodara-sodara. Lama, sodara-sodara. Saya nggak bisa nyembuhin diri saya sendiri dan teman saya pun mulai marah-marah karna pikiran saya jadi nggak lancar. Mereka pun mulai bilang "You deserve better!" tapi saya masih tetep ngarep sama si cowok yang bikin galau itu. Kalau diinget-inget jadi lucu.

*****

Setelah 5 bulan, pikiran saya mulai terang. Apalagi Tuhan mempertemukan saya dengan pria yang lebih baik a.k.a Kusanagi Tsuyoshi *inilah awalnya saya bisa suka doi. Saya pun larut dalam dunia fandom dan LUPA dengan si cowok galau. Pikiran saya jernih, hari-hari saya jelas, hati saya bahagia, dan saya kembali jadi pemberi energi positif. Bahkan saya tidak berminat dalam urusan cinta kecuali Tsuyo-kun membalas cinta saya :p . Saya pun say bye bye to galau.

dan...

Setelah hampir setahun,

Suatu hari...

dia kembali hadir dalam kehidupan saya. Semua pun flash back. Rindu.

Kapal goyang, kapten...